Copyright © 2010 BELAJAR DAN BERBAGI. Powered by WordPress.
Kun kitaaban mufiidan bila ‘unwaanan, wa laa takun ‘unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.
Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.
Wahyu dari langit sudah terputus ketika Muhammad SAW menghembuskan nafas terakhirnya. Tak ada lagi nabi. Tak ada lagi kitab suci. Tapi pembelajaran melalui wahyu tidak berakhir. Karena ada jaminan Allah bahwa kitab suci terakhir itu, Al-Qur’an Al-Karim, akan menjadi kitab yang abadi, yang autentitasnya selamanya akan terjaga, kata dan hurufnya takkan terjangkau oleh perubahan dan penyimpangan, kebenaran substansinya akan menembus semua batas ruang dan waktu hingga kiamat.
Jika sahabat-sahabat yang beriman dan hidup bersama Muhammad SAW berinteraksi dengan wahyu secara langsung bersama penerima wahyu, maka pembelajaran mereka menjadi jauh lebih mudah dan sempurna. Karena mereka mendengarkan teks, mendengarkan penjelasan atas teks, dan yang lebih penting dari itu semua, adalah melihat contoh hidup yang menerapkan teks itu. Ada kaidah ada contoh. Ada teori ada praktek. Ada ide ada gerak. Ada berita ada peristiwa. Ada bunyi ada rupa. Ada yang terdengar ada yang terlihat. Itu karunia yang merupakan takdir mereka. Takdir kita mungkin tidak sebagus mereka. Kita sekarang kehilangan satu aspek dari proses dan metode pembelajaran itu, yaitu contoh hidup yang bersanding bersama teks. Tapi kekurangan itu bisa tertutupi oleh fakta bahwa semua gerak dan kata contoh hidup tersebut tetap sampai kepada kita melalui riwayat dan metodologi periwayatan yang sangat akurat yang tidak pernah ada dalam sejarah peradaban manapun di dunia. Sedemikian akuratnya metodologi periwayatan itu, sehingga jika ia diterapkan, misalnya, pada sejarah bangsa Yunani, maka semua riwayat tentang Plato atau Aristoteles atau Socrates, takkan kita percayai seperti sekarang kita mempercayainya.
Jika Anda pernah membayangkan tubuh Anda terbaring di pinggir pantai indonesia, di atas pasir putih yang indah, ditaburi pemandangan alam yang serba eksotis, serta dihujani cahaya mentari yang menghangatkan tubuh, maka tak salah jika Anda menyempatkan diri berekreasi dan ber wisata Pantai ke Senggigi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pantai yang terletak 12 kilometer di sebelah barat laut Kota Mataram ini memang merupakan obyek wisata yang terkenal dengan keindahan dan kealamian pantainya.
Masyarakat sering menyejajarkan keindahan pantai ini dengan pantai-pantai ternama di Pulau Bali, seperti Kuta, Legian, dan Sanur. Bahkan, keindahan Pantai Senggigi sering dilukiskan melebihi pantai-pantai tersebut, karena kondisinya yang jauh lebih nyaman dan tenang. Mungkin hal ini terkait dengan belum maraknya kedatangan turis mancanegara di pantai ini.
Pulau Lombok masih belum banyak dikenal. Jangankan tempat wisatanya, Mataram yang merupakan ibu kota propinsi NTB yang terdapat di pulau Lombok juga masih asing ditelinga. Hingga beberapa waktu belakangan ini acara-acara petualangan dan perjalanan wisata di televisi banyak mengangkat topik mengenai daerah wisata di pulau Lombok.
Pulau Lombok merupakan salah satu pulau besar yang masuk dalam propinsi NTB disamping pulau sumbawa. Pulau Lombok memiliki karakteristik yang mirip dengan pulau Bali, karena memiliki keterkaitan sejarah dengan pulau tersebut. Sehingga banyak yang menyebut kita dapat menikmati Bali di Lombok, akan tetapi kita tidak dapat menikmati Lombok diBali. Sama seperti Bali, Lombok mengandalkan wisatanya dari wisata pantai. Lombok memiliki pantai yang tidak kalah bagusnya dengan Bali hanya memang belum dikelola secara baik. Pantai-pantai yang telah banyak dikenal misalnya pantai senggigi dan daerah 3 Gili.
Bingkai itu pernah kau campakkan, retak dan ku punguti dengan linangan air mata. Bingkai itu pernah terlupakan, dan kini kau mengingatnya kembali. Lalu, untuk apa? Karena toh kedatanganmu bermakna satu tusukan luka.
Mengakuimu pernah menjadi bagian terindah dari hidup ini pernah ku lakukan, dan memang kau pernah menjadi yang terindah. Namun tidak untuk saat ini. Setelah berderet luka yang tercipta, setelah ku bungkam atas nama cinta.
Bingkai itu kini telah cacat meski utuh membentuk fungsinya. Dan kini pada masa yang tak pernah diduga sebelumnya, bingkai hati akan segera menjalankan takdirnya.
Mengapa ikan di laut?
Mengapa tidak burung yang bisa terbang tinggi di langit biru? Atau harimau yang terkenal dengan keberaniannya memburu mangsa? Atau kuda yang kencang berlari merempuh semua halangan di hadapan?
Mengapa ikan?
Ikan di laut, berenang penuh keyakinan mengeksplorasi laut dalam, berenang dengan penuh hati-hati menjelajahi laut dalam yang misteri. Sudah berapa banyak jenis khazanah yang dijejakinya. Sudah banyak batu karang dicermatinya. Sudah berapa kedalaman laut sudah diharunginya.






