Subscribe to RSS Feed

Tembang Para Sunan

22/02/2010 by wahyu

Lir-ilir Lir-ilir tandure wus sumilir-Tak ijo royo-royo-Tak sengguh temanten anyar.

Bocah angon Bocah angon-Penekno blimbing kuwi-Lunyu lunyu penekno-Kanggo mbasuh dodotiro.

Dodotiro dodotiro kumitir bedah ing pinggir-Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.

Mumpung padang rembulane-Mumpung jembar kalangane-Yo surako surak iyo.

Entahlah siapa yang menciptakan, yang jelas tembang ini ciptaan para wali. Tembang Lir-ilir bukan sekedar syair yang dinyanyikan oleh anak-anak atau orang-orang zaman dahulu sebagai lagu dolanan di tanah jawa. Akan tetapi syair ini merupakan seruan para wali dan menggambarkan kondisi bangsa Indonesia pada masa sesudahnya.

Lir-ilir lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar

Tanaman yang telah mulai bersemi dan menghijau daunnya seolah-olah akan terus menghijau dan menjadi tanaman yang rindang yang bisa memberikan pengayoman/tempat berteduh bagi siapapun tanpa terkecuali untuk mendapatkan kedamaian dalam hatinya.

Masyarakat Indonesia sayup-sayup bangun dari tidur dan mulai tumbuh subur Agama Islam di Indonesia. Khususnya di tanah Jawa sendiri semakin banyak penduduknya yang masuk agama Islam. Dan diibaratkan menghijau sebagaiman simbol agama Islam pada umumnya.

Sebegitu berkembangnya Agama Islam di masyarakat dan digambarkan oleh para Sunan dengan ‘ijo royo-royo’. Namun tentu saja pada waktu itu perkembangan Agama Islam masih dalam tahap awal sehingga digambarkan seperti pengantin baru yang baru memulai perjalanan hidup setelah pernikahan.

Bocah angon bocah angon

Penekno blimbing kuwi

Lunyu lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodot iro

Belimbing adalah buah yang bergerigi lima menggambarkan syrariat Islam itu sendiri. Belimbing adalah Agama Islam yang harus dipanjat untuk diperoleh buahnya. Kenapa harus bocah angon atau seorang penggembala? Penggembala adalah figur orang yang mampu menggembalakan nafsunya. Bukan yang selalu menuruti juga bukan yang selalu mengekang nafsunya. Panjatlah belimbig itu bukan untuk dirimu sendiri. Akan tetapi berikan kepada semua orang.

Selicin apapun, sesulit apapun tetap panjatlah untuk mendapatkan buahnya. Karena sari pati/air dari buah belimbing itu akan digunakan untuk membasuh/mencuci dodot (dodot=pakain). Pakaian adalah hiasan bagi tubuh. Pakaian adalah sesuatu yang menjadikan badan seseorang lebih dihargai. Ada juga yang menafsirkan dodot adalah hati. Entahlah, yang jelas keduanya harus dibasuh/dicuci dengan air belimbing itu. Atau hati setiap hati orang harus disiram dengan syari’at ajaran Agama Islam. Agar senantiasa berih dan bersinar.

Dodotiro dodotiro kumitir bedah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Pakaian yang dicuci itu sobek di bagian tepinya, maka jahit dan benahilah. Karena pakaian itu akan digunakan untuk sebo (menghadap/sowan) nanti di sore hari.

Meskipun demikian, syariat Islam yang diajarkan oleh para Sunan masih belum sempurna. Para sunan menggambarkan dodot yang sobek bagian tepinya. Mengartikan bahwa syariat Islam yang diajarkan tidaklah murni, akan tetapi hasil akulturasi kebudayaan Islam yang berpedoman pada syariat agama dengan kebudayaan Hindu-Buda yang telah mengakar di hati masyarakat jawa pada waktu itu.

Maka, “dondomono, jlumatono” seruan para sunan agar syariat Islam disempurnakan. Karena dengan syari’at itulah kelak akan dibawanya oleh setiap manusia untuk sebo (menghadap) kepada Allah swt ketika mati.

Mumpung padang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo sura’o surak hiyo…

Para sunan mengisyaratkan/menyerukan dengan padang rembulane atau masih terang bulan. Mumpung hidayah Allah swt masih terebuka lebar. Selagi masih jembar kalangane. Atau masih ada umur, selagi ada kesempatan dan pintu hidayah belum ditutup. Berserulah tutur sunan dengan maksud mengajak semua kalangan untuk menyerukan/mensyiarkan Islam selagi masih ada kesempatan.

Sumber: YoHang

Baca Tulisan Terkait

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Ruang Tamu