Subscribe to RSS Feed

Dalam sisitem perpolitikan bangsa ini, dimana suara menjadi hal yang sangat berpengaruh. Maka sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana strategi atau cara yang bisa dilakukan gara bisa meraup suara sebanyak-banyaknya. Sudah barang tentu, ketika berbicara suara berarti kita berbicara massa yang dalam hal ini adalah pemilih. Yakni masayarakat itu sendiri.

Perlu juga kita ketahui bahwa. Kecendrungan atau alasan pemilih dalam menentukan pilihannya itu berbeda di setiap daerah. Karenanya delapan logika politik massa dimaksud adalah sebuah proses pertimbangan politik yang terjadi pada setiap diri pemilih sehingga ia akhirnya menentukan pilihan politiknya pada partai atau calon tertentu dan tidak kepada partai atau calon yang lainnya.

Menelaah lebih jauh kultur atau budaya perpolitikan masayarakat kita. Maka, setidaknya ada delapan logika yang biasanya menjadi pertimbangan, diantaranya adalah:

Logika Ketokohan

Untuk masyarakat Indonesia yang cenderung paternalistic, logika ini ternyata sangat dahsyat dalam menjaring suara. Ambil contoh misalnya Amien Rais, Gus Dur, Megawati yang memiliki rekor pemilih yang konsisten. Rekor terendah yang ada pada pendukungnya Amien Rais saja menunjukkan, dari 100 orang pendukung Amien, 79 diantaranya setia memilih partainya Amien (PAN). Itu artinya, logika ketokohan ini sangat efektif dalam meraup suara sebanyak-banyaknya.

Kalau disuatu daerah kita bisa menggaet hati para tokoh yang ada, maka perolehan suara yang besar di daerah tersebut sangat dimungkinkan.

Logika Media

Media itu dapat memperbesar suatu yang kecil dan begitu juga sebaliknya, memperkecil sesuatu yang besar. Ketokohan seseorang bisa ‘dikatrol” dengat cepat oleh kekuatan media. Sebaliknya, pembunuhan karakter juga bis direkayasa. Media bisa melakukan rekayasa publik dengan sangat efektif, melakukan masalisasi kebaikan dan keburukan pada saat yang sama.

Karena peran strategis media itulah, maka kedekatan kita dengan media massa sangatlah penting. Karena dengan kedekatan itulah kita bisa memanfaatkan media sebanyak-banyaknya agar kita bisa dikenal secara luar oleh pemilih. Dengan itu pengenalan melalui media yang kita lakukan tidak sebatas hanya dengan brosur, banner atau baliho saja. Tapi juga melalui media massa yang lebih luas dan lebih efektif peranannya.

Logika Jaringan

Saya pribadi lebih senang menyebutkan logika ini dengan jaringan pertemanan. Ketika kita masuk ke suatu daerah yang dimana kita tidak mengenal betul derah tersebut, maka hal pertama yang akan kita lakukan adalah mencari orang yang mungkin untuk kita ajak. Menyakinkan orang akan diri kita dalam waktu yang singkat  tentu  bukan perkara yang mudah, apalagi orang tersebut adalah tokoh di sekitar itu.

Tentu hal berbeda bisa kita rasakan ketika kita sudah mempunyai orang yang kita kenal. Apalagi hubungan yang kita jalin berlangsung sangan erat. Kita tidak hanya bisa mendapatkan suara dari yang bersangkutan tapi juga mendapatkan orang yang bisa meyakinkan lingkungannya agar supaya mendukung kita.

Logika Pragmatisme

Logika ini berbicara untung rugi dan balas jasa. Siapa yang paling bisa memberikan manfaat kongkrit maka pemilih akan menentukan pilihannya ke sana. Manfaat kongkrit di sini bisa bermakna luas. Materi secara langsung (politik uang), hingga dimensi balas jasa yang bermakna sangat luas. Saya dapat apa, ya. Anda dapat apa. Kira-kira begitu penggambaranna.

Karenanya, tidaklah cukup bagi seorang maupun partai politik yang ingin menang hanya mengandalakan kekuatan partai politik pengusungnya. Tapi ia juga membutuhkan sayap lain yang bisa mendongkrak suaranya. Yang dalam konteks logika ini bisa melalui ormas, LSM, lembaga jaringan ekonomi, jaringan bisnis, jaringan kesukuan, jaringan professional, serta tokoh-tokoh informal lainnya sebisa mungkin bisa dimasuki. Sehingga, dalam konteks balasa jasa ini para pemilih girang untuk menentukan pilihan kepada kita atau partai politik kita.

Logika Budaya

Di beberapa partai politik logika ini berjalan signifikan dalam mendongkrak suara. Tengok sja PDIP yang didukung oleh 4 dari 1 etnis Jawa, hamper tiga dari sepuluh etnis Sunda. PAN didukung 4 dari 10 etnis Padang, PKB didukung 5 dari 10 etnis Madura. PG didukung 7 dari 10 etnis Sulawesi.

Proses-proses seperti ini pada umumnya memang melalui proses yang panjang. Karenanya, dalam proses-proses kampanye yang Anda lakukan sebaiknya memberikan informasi dalam bahasa konstituen Anda. Dekat dengan budaya dan kebutuhan lokal tersebut.

Logika Sejarah

Logika ini, selain identik dengan sejarah dalam arti kebiasaan menentukan pilihan juga identik dengan perubahan. Kebiasaan artinya, pilihan politik massa itu cenderung memilih apa yang dipilih oleh nenek moyang mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan perubahan adalah semanga ingin berubahnya masyarakat itu sendiri. Misalnya, dari ored baru ke reformasi maka piliahan massa akan lebih cenderung ke tokoh-tokoh yang mempunyai semangat reformasi.

Di masyarakat yang merasa kebebasannya dirampas, maka pilihannya jatuh kepada tokoh maupun partai yang mengusung kebebasan meraka. Dan logika seperti ini sudah kita rasakan, juga serupa seperti yang terjadi di Negara-negara lainnya.

Logika Ideologis

Beberapa responden pemilih Indonesia yang ditanya mengenai pilihan politik meraka menyatakan sebagiab besar diantara mereka menjatuhkan pilihan  kepada tokoh atau partai karena latar belakang ideologis, dalam hal ini adalah Islam. Massa seperti ini bukanlah masa mengambang, melainkan massa yang sudah sadar betul akan pilihannya tersebut. Sadar akan visi misi, manfaat maupun konsekuensi dari pilihannya itu.

Logika Kampanye

Logika ini digunakan untuk menyampaikan, mempropaganda dan mereayu masyarapak agar mau memilih partai atau tokoh politik. Yang perlu diingat adalah bawah tidak massa kampaeny berarti positif bagi tokoh atau sebuah partai. Artinya massa yang banyak bukan berarti seara otomatis akan meningkatkan jumlah suara. Kemungkinan itu memang selalu ada. Hasil penelitian yang ada juga menunjukkan proses kampanye juga memiliki kontribusi negatif dan positif bagi sebuah partai ataou tokoh.

Sebut saja Golkar. Kampanye yang dilakukannya ternyata berkontribusi negative sebesar 2% bagi jumlah pemilih golkar. Artinya kampanye yang dilakukan juga berpotensi menurunkan jumlah suara yang diperolehnya. Hal sebalikknya bisa terjadi di partai-partai yang lain.

*diambil dari berbagai sumber

Baca Tulisan Terkait

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Ruang Tamu