Subscribe to RSS Feed

Romantis…. Entah apa arti kata ini, yang jelas ia sering dikaitkan dengan  perasaan cinta kasih. Tidak ada definisi yang jelas, bahkan Google dan Wikipedia pun tak bisa menjelaskannya secara definitif. Mungkin sama halnya dengan rasa cinta, setiap orang punya persepsi tersendiri dalam makna dan cara tuk mengungkapkannya. Yang jelas setiap pecinta sepakat bahwa romantis itu penting.

Setiap orang pasti merasakan masa-masa ini. Bahkan dalam konteks kekinian, kecanggihan teknologi mendukung tumbuh kembannya romantisme. Di facebook misalanya, seorang yang dikenal pendiam ternyata menjadi paling pandai merangkai kata-kata cinta di dunia maya. Yang garang dan keras jadi lemah lembut. Yang melangkolis tambah menjadi-jadi. Banyak prilaku yang berubah saat menyentuh dunia maya.

Islam bukannya melarang kita melakukan hal yang demikan, seperti yang saya katakan sebelumnya, romantis itu penting. Hanya saja romantis yang seperti apa?

Dalam sejarah Islam, kita akan menemukan banyak kisah romantis. Bagaimana kehidupan keluarga Rasulullah, dan hubungan Rasulullah dengan para sahabat, ataupun kisah kehidupan para sahabat sendiri. Kisah-kisah itu banyak dihiasi dengan romantisme, bahkan selalu. Romantisme dalam segala hal, termasuk romantisme cinta.

Sejarah mengatakan bahwa sahabat yang paling romantis adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Anak pemimpin suku Aus yang terbilang kaya di Yastrib (Madinah). Ia adalah ikhwan yang melabuhkan cintanya pada akhwat yang bernama Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul yang juga berasal dari keluarga orang besar di Yastrib.

Tahukan kenapa ia menjadi sahabat yang paling romantis? Ia adalah sosok pemuda yang gagah berani. Yang dengan pedangnya ia membuat Abu Sufyan lari terbirit-birit di perang Uhud. Ia yang menikah di siang harinya dan bertemu di malamnya, esoknya ia berangkat menuju medan jihad. Ia yang lebih memilih menjadi syuhada di Uhud ketimbang manisnya bulan madu. Ia yang mandi janabatnya setelah bertemu dengan isrinya dilakukan oleh malaikat, lalu menanti bidadarinya di surga.

Itulah definisi romantisme yang ada dalam Islam. Pria romantis bukanlah ia yang pandai merangkai kata-kata cinta dan membuat wanita melayang-layang karenanya. Tapi pria yang romantis adalah ia yang semangat melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah tanpa mengenal lelah. Ia yang tidak banyak pertimbangan ketika beramal. Selama perintah itu datang dari Allah dan Rasulullah mereka segera menunaikannya.

Pria yang romantis adalah ia yang memiliki keikhlasan untuk mengorbankan apapun yang dimiliki. Rela meninggalkan kenikmatan atau kebahagiaan yang sedang dirasakannya. Bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi memperjuangkan agama Allah. Ia yang merindukan perjumpaan dengan Allah dan Rasulullah kelak.

Disebut romantis pula ia yang cekatan dalam beramal. Ia yang tidak hanya hapal, paham, dan mengerti ayat-ayat Allah dan perkataan Rasul-Nya, tapi juga mempraktikan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti itulah kiranya romantis dalam pandangan Islam.

Bagaimana dengan kita? Semoga kita termasuk di dalamnya. Amiin…

Baca Tulisan Terkait

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

5 Responses to “ Menjadi Ikhwan Paling Romantis ”

  1. Khansa
    19/04/2010 at 7:12 am

    ;-) romantis itu ndak boleh sembarangan yaaa…

  2. ustad_aa
    18/04/2010 at 8:07 pm

    :smile: , salam kenal…terus berkarya, ya…

    • wahyu
      18/04/2010 at 8:19 pm

      salam kenal kembali. moga dagannya lancar. jika butuh jasa optimalisasi SEO kami siap membantu anda agar web jualan anda mendominasi di mesin pencari

  3. doelsyifa
    15/04/2010 at 1:51 pm

    assalamualaikum ;-) , yang jelas romantis akan mempermudah kita dalam bersosial dengan sesama, da islam tidak melarang, maka kita berfastabiqul khairat untuk menjadi manusia yang paling romantis. klo ada judul lagu wanita aling seksi, kita jangan malu2 untuk berlomba menjadi manusia paling romantis

Leave a Reply

Ruang Tamu