Copyright © 2010 Wahyu Permadi Webblogsite. Powered by WordPress.
Sejak menempuh pendidikan menengah saya memang terbiasa belajar dalam kelompok. Kelompok belajar kata teman saya menyebutnya waktu itu. Walaupun sebenarnya kami sendiri sering kali tersenyum geli kalo ada yang menyebutnya demikian, karena jujur saja waktu yang kami gunakan tuk bermain lebih banyak dibandingkan dengan waktu tuk belajarnya.
Menurut saya sih kelompok itu lebih tepat jika disebut dengan kelompok rujaan dan makan-makan. Aktifitas itu seringkali mewarnai perkumpulan ini. Alur aktifitasnya pun sudah bisa ditebak, rujakan-makan-kemudian belajar dikit, terus ngantuk dan tertidur. Bangun tiba-tiba sudah sore, segera beres-beres buku dan segala macamnya, lantas kemudian pulang kerumah masing-masing. Sampe dirumah datang dengan wajah lesu, biar terkesan capek belajar di depan ortu hehe…
Ngeblog, bagi saya adalah pilhan yang paling pas untuk dijadikan media pengenalan diri dikalangan masyarakat luas, khususnya di dunia maya. Dengan ngeblog kita bisa mengenalkan diri kita sekaligus menyebarluaskan ide-ide kita kepada masyarakat luas. Tidak hanya itu, dengan ngeblog kita bisa mendapatkan teman yang banyak tanpa dibatasi oleh ruang gerak kita.
Hingga saat ini komunitas blogger di Indonesia sudah ada diberbgai wilayah. Komunitas yang ada pun tidak terbatas pada komunitas kewilayahan, tapi sudah merambak ke tema-tema komunitas lainnya. Misalnya, komunitas berbagi yang dikomandai oleh pak heri dan kawan-kawan, komunitas pelajar, komunitas penulis dan lain sebagainya. Ini tentunya semakin menunjukkan kepada kita akan semakin eksisnya pada blogger di Indonesia. Aktifitas ngeblog memang tidak bisa dipisahkan dari komunitas-komunitas itu. Karena pada dasarnya aktifitas ngeblog itu adalah aktifitas mencari teman, berbagi ilmu, ide, pengalaman, dan tentu saja silaturahim sesama blogger.
Satu hari, seorang anak bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana aku bisa menemukannya?” Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”
Anak itu pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Anak tersebut menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.
Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Dalam pengarahan yang diberikan seusai menjalankan shalat duha, kepala sekolah saya sering kali mengilustrasikan kepada kami bahwa musholla tempat kami sholat itu kokoh, indah dan rapi dikarenakan karena ada unsur paksaan di dalamnya.
Kayu itu –beliau mencontohkan, saling berhubungan satu sama lain dan saling mengokohkan karena ada paksaan diantara keduanya. Ada paku yang dipaksa, dipalu untuk merekatkan keduanya. Keramik yang ada dilantai, di tembok itu juga rata karena ada unsure-unsur paksaan. Singkatnya beliau menyampaikan tak selamanya paksaan itu selalu identik dengan ketidaknyamanan dan hal-hal kontra produktif lainnya. Tapi terkadang kita juga butuh paksaan agar menjadi lebih baik.
Sebagai orang yang pernah dibesarkan dalam sebuah organisasi yang ada di kampus, saya sering bertanya kepada adik-adik yang sekarang ini memegang posisi strategis. Siapa calon pemengang posisi Anda berikutnya? Respon dari pertanyaan itu beragam. Ada yang hanya sebatas senyum, ada yang dengan yang yakinnya mengatakan ada, beberapa dan lain sebagainya.
Sahabat sekalian. Jika Anda juga termasuk kedalam orang-orang yang saat ini menjadi pimpinan atau berada di posisi-posisi strategis di organisasi Anda. Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa tugas adalah mencetak sebanyak mungkin orang-orang yang mengantikan Anda.
Mereka semua gusar. Tuan rumah, tetamu dan seluruh penghuni rumah itu yang umumnya kaum fakir miskin dan nestapa. Pasalnya, tuan rumah kehilangan uangnya dalam rumahnya. Tentu saja sang tamu, seorang ibu dan anak lelakinya, yang paling gusar di antara mereka. Karena kejadiannya bertepatan dengan kedatangan mereka. Pantaslah kalau kecurigaan gampang tertuju pada mereka. Dan anak lelaki kecil itu menangkap kegusaran yang hebat di wajah ibunya, selain kegusaran di wajah tuan rumah dan segenap penghuni rumah lainnya. Ia pun segera bertindak.
Continue Reading »





